PENGERTIAN
Balon adalah sebuah kantung fleksibel yang umumnya berisikan gas seperti helium, hidrogen, nitrogen monoksida dan udara. Beberapa jenis balon benar-benar murni
digunakan sebagai elemen dekorasi, sedangkan jenis lainnya digunakan untuk
tujuan-tujuan tertentu. Balon-balon pertama dibuat dari bahan mirip membran
yang berasal dari hewan (animal bladder). Balon-balon modern
dibuat dari bahan semacam karet, lateks, chloroprene dan nilon. Balon modern ditemukan oleh Michael
Faraday pada tahun
1800-an, akan tetapi produksi massal balon belum terjadi sampai akhir tahun
1930-an.
Balon udara panas yaitu sebuah balon yang
memiliki massa jenis udara yang berbeda dengan udara disekitarnya, Dilakukan
dengan cara dipanaskan dengan api sehingga udara akan mengalir dan balon akan
naik ke atas. Balon udara panas ini biasanya digunakan oleh militer untuk
melakukan pengintaian ke daerah lawan, seiring dengan perkembangan waktu Balon
Udara Panas ini digunakan sebagai keperluan wisata.
PRINSIP
KERJA BALON UDARA
1.
Cara
kerja balon udara
Cara
balon udara bekerja prinsipnya sangat sederhana yaitu dengan cara memanaskan
udara di dalam balon agar lebih panas dari udara di luarnya. Karena kita tahu
udara yang lebih panas akan lebih ringan karena masa jenis udara yang ada
didalam balon lebih ringan dari udara di luar.
2.
Cara Balon Udara Terbang
Seperti
yang telah disebutkan di atas balon udara terbang dengan memanfaatkan Perbedaan
berat udara dengan jalan memanaskannya. Untuk terbang udara di dalam envelope
di panaskan dengan burner dengan temperature sekitar 100 derajat Celcius. Udara
panas ini akan terperangkap di dalam envelope. Karena udara panas ini masa per
unit volumenya lebih sedikit membuatnya lebih ringan sehingga balon udara pun
akan bergerak naik di dorong oleh udara yang bertekanan lebih kuat. Untuk
mendarat, udara didinginkan dengan cara mengecilkan burner . Udara yang mulai
mendingin di dalam envelope membuat balon bergerak turun. Untuk mempercepatnya,
pilot akan membuka katup parasut (parachute valve) sehingga udara di dalam
envelope lebih cepat dingin. Karena balon udara hanya bisa naik dan turun
(bergerak secara vertikal) tentu kita berpikir bagaimana cara balon udara
berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain (bergerak secara horizontal).
Jawabanya hanya satu, pilot memanfaatkan hembusan angin untuk bergerak secara
horizontal.
Karena angin bertiup berbeda arahnya pada setiap ketinggian tertentu. Perbedaan arah tiupan angin inilah yang dimanfaatkan oleh pilot untuk mengendalikan balon udara dari satu lokasi ke lokasi yang diinginkan. Sebagai ilustrasi pada ketinggian 300 meter balon udara akan bergerak dari timur kebarat. Angin yang bertiup kebarat di perkirakan pada ketinggian 400 meter. Untuk itu pilot menaikan balon udara sampai ketinggian tersebut dan balon udara pun memanfaatkan tiupan angin untuk menuju kebarat. Sederhana bukan? Tapi hal ini hanya bisa dipraktekan oleh pilot yang berpengalaman agar balon udara tidak nyasar.
Karena angin bertiup berbeda arahnya pada setiap ketinggian tertentu. Perbedaan arah tiupan angin inilah yang dimanfaatkan oleh pilot untuk mengendalikan balon udara dari satu lokasi ke lokasi yang diinginkan. Sebagai ilustrasi pada ketinggian 300 meter balon udara akan bergerak dari timur kebarat. Angin yang bertiup kebarat di perkirakan pada ketinggian 400 meter. Untuk itu pilot menaikan balon udara sampai ketinggian tersebut dan balon udara pun memanfaatkan tiupan angin untuk menuju kebarat. Sederhana bukan? Tapi hal ini hanya bisa dipraktekan oleh pilot yang berpengalaman agar balon udara tidak nyasar.
KOMPONEN-KOMPONEN PADA BALON UDARA
PANA
Balon udara secara garis besarnya
mempunyai tiga bagian utama yaitu envelope, burner, dan basket.
a)
Envelope
berisi
udara/gas ringan (seperti Gas Hidrogen) yang berfungsi mengangkat Balon Udara
dari landasannya
bentuknya berupa kantong berupa balon tempat udara dipanaskan. Envelope ini
biasanya terbuat dari bahan nilon dan diperkuat dengan panel-panel yang di
anyam. Karena nilon ini tidak tahan api, maka bagian bawah envelope di lapisi
dengan bahan anti api (skirt).
b)
Burner
merupakan alat yang berfungsi untuk memanaskan udara di dalam Envelope. Burner
di letakan di atas kepala penumpang dekat ke mulut envelope. Burner
ini mengatur tekanan dalam kantung udara agar balon dapat terbang dengan
ketinggian yang diharapkan.
Balon
udara panas sedang inflated dengan pembakar burners sebelum diluncurkan
c)
Basket
atau kabin penumpang, terletak di bawah kantung udara
merupakan tempat awak mengendalikan balon udara atau penumpang yang menikmati
penerbangan balon udara.Basket
dibuat dari bahan yang ringan dan lentur.
TEORI-TEORI
FISIKA YANG TERDAPAT PADA BALON UDARA
Teori
fisika yang terdapat pada balon udara panas ini diantaranya tentang 1) Hukum Archimedes, 2) Hukum III Newton, 3) Teori
Kinetik Gas. Dari beberapa tori di atas berikut ini penjelasannya.
a)
Hukum
Archimedes
Balon udara naik atau turun sesungguhnya mengikuti hukum
Archimedes. Hukum Archimedes mengatakan bahwa “Benda di dalam
zat cair akan mengurangi berat sebesar berat zat cair yang dipindahkan”. Hukum archimedes ini berlaku untuk semua fluida.
Persamaan rumusnya adalah :
Fa
= ρƒ . Vbƒ . g
keterangan
Fa = gaya angkat ke atas pada benda / gaya apung (N)
ρƒ = massa jenis udara (kg/m3)
Vbƒ = volume udara yang terdesak (m3)
g = percepatan gravitasi bumi (m/s2)
Fa = gaya angkat ke atas pada benda / gaya apung (N)
ρƒ = massa jenis udara (kg/m3)
Vbƒ = volume udara yang terdesak (m3)
g = percepatan gravitasi bumi (m/s2)
Aplikasi hukum archimedes ini digunakan balon udara untuk
naik dan turun. Persisnya begini: gaya apung yang diterima oleh suatu benda
yang melayang di suatu fluida sama dengan berat fluida yang dipindahkannya.
1.
Saat ingin menaikkan balon udara
Fa > berat total balon
Fa > berat total balon
Dengan
persamaan Fa = ρƒ . Vbƒ . g, maka yang bisa
dirubah adalah Vbƒ karna massa jenis udara ( ρƒ ) dan percepatan gravitasi (g) adalah konstan. Merubah Vbƒ dengan cara mengisi balon sehingga
berat udara yang dipindahkan lebih berat dari berat balon. Untuk mencapai hal
tersebut, prinsip kimia mengajarkan kita tentang mengisi balon dengan gas yang
massa molekulnya lebih kecil dari massa rata-rata di udara atau dengan gas
panas. Tidak semua gas memenuhi persyaratan itu, apalagi jika ada pertimbangan
harga dan keselamatan. Beberapa di antaranya adalah gas Hidrogen (H2) dan Helium
(He). Sehingga saat gaya apung (Fa)
sudah lebih berat daripada berat total balon (berat balon dan muatan) sehingga
balon mulai bergerak naik.
2.
Saat ingin
menurunkan balon udara
Fa < berat total balon
Fa < berat total balon
Dengan persamaan Fa
= ρƒ . Vbƒ . g, maka yang bisa dirubah adalah Vbƒ karena massa jenis udara ( ρƒ ) dan percepatan
gravitasi (g) adalah konstan. Untuk
menurunkan balon dengan cara mengurangi volume udara yang ada pada balon,
sehingga saat gaya apung (Fa) lebih kecil daripada berat
balon, dan berat balon bergerak turun.
b) Hukum III Newton
Newton
mengatakan bahwa kenyataan dalam kehidupan sehari-hari ketika sebuah benda
memberikan gaya kepada benda lain maka benda kedua tersebut membalas dengan
memberikan gaya kepada benda pertama, di mana gaya yang diberikan sama besar
tetapi berlawanan arah. Jadi gaya yang bekerja pada sebuah benda merupakan
hasil interaksi dengan benda lain.
Apabila
sebuah benda memberikan gaya kepada benda lain, maka benda kedua memberikan
gaya kepada benda yang pertama. Kedua gaya tersebut memiliki besar yang sama
tetapi berlawanan arah. Secara matematis Hukum III Newton dapat ditulis sebagai
berikut :
F
A ke B = – F B ke A
F
A ke B adalah gaya yang diberikan oleh benda A kepada benda B, sedangkan F B ke
A adalah gaya yang yang diberikan benda B kepada benda A. Misalnya ketika anda
menendang sebuah batu, maka gaya yang anda berikan adalah F A ke B, dan gaya
ini bekerja pada batu. Gaya yang diberikan oleh batu kepada kaki anda adalah –
F B ke A. Tanda negatif menunjukkan bahwa arah gaya reaksi tersebut berlawanan
dengan gaya aksi yang anda berikan. Jika anda menggambar tanda panah yang
melambangkan interaksi kedua gaya ini, maka gaya F A ke B digambar pada batu,
sedangkan gaya yang diberikan batu kepada kaki anda, – F B ke A, digambarkan
pada kaki anda. Persamaan Hukum III
Newton di atas juga bisa kita tulis sebagai berikut :
Faksi
= -Freaksi
Hukum
Newton ini dikenal dengan hukum aksi-reaksi. Ada aksi maka ada reaksi, yang
besarnya sama dan berlawanan arah. Kadang-kadang kedua gaya tersebut disebut
pasangan aksi-reaksi. Ingat bahwa kedua gaya tersebut (gaya aksi-gaya reaksi)
bekerja pada benda yang berbeda. Berbeda dengan Hukum I Newton dan Hukum II
Newton yang menjelaskan gaya yang bekerja pada benda yang sama.
Gaya
aksi dan reaksi adalah gaya kontak yang terjadi ketika kedua benda bersentuhan.
Walaupun demikian, Hukum III Newton juga berlaku untuk gaya tak sentuh, seperti
gaya gravitasi. Ketika kita menjatuhkan batu, misalnya, antara bumi dan batu
saling dipercepat satu dengan lain. batu bergerak menuju ke permukaan bumi,
bumi juga bergerak menuju batu. Gaya total yang bekerja pada bumi dan batu
besarnya sama. Karena massa bumi sangat besar maka percepatan yang dialami bumi
sangat kecil. Walaupun secara makroskopis tidak tampak, tetapi bumi juga
bergerak menuju batu atau benda yang jatuh akibat gravitasi. Bumi menarik batu,
batu juga membalas gaya tarik bumi, di mana besar gaya tersebut sama namun
arahnya berlawanan.
Hukum III Newton berlaku pada Balon Udara yang bergerak
Faksi
= -Freaksi
Hukum III Newton juga berlaku pada
balon udara yang bergerak. Yang dimaksudkan di sini bukan balon udara yang
bergerak karena ditiup angin, tapi karena di dorong oleh udara yang ada di
dalam balon. Dapat dilakukan percobaan berikut. Ambil sebuah balon biasa dan
tiuplah balon sampai balon mengembung. Jangan lupa jepit mulut balon dengan
jari agar udara tidak keluar. Lepas jepitan tangan pada mulut balon. Apa yang
terjadi? Balon tersebut bergerak, jika posisi balon tegak, di mana mulut balon
berada di bawah, maka balon akan meluncur ke atas. Balon bergerak ke atas
karena balon memberikan gaya aksi dengan mendorong udara ke bawah (udara keluar
lewat mulut balon). Udara yang keluar lewat mulut balon memberikan gaya reaksi
dengan mendorong balon ke atas, sehingga balon bergerak ke atas. Apabila posisi
balon dibalik, di mana mulut balon berada di atas, maka balon akan bergerak ke
bawah. Besar gaya aksi dan reaksi sama, hanya berlawanan arah. Balon mendorong
udara ke bawah, udara mendorong balon ke atas. Atau sebaliknya balon mendorong
udara ke atas, udara mendorong balon ke bawah. Semakin banyak udara yang
ditiupkan ke dalam balon, maka balon bergerak makin cepat ketika mulut balon
tersebut dibuka. Hal ini disebabkan karena balon mendorong lebih banyak udara
keluar, sehingga udara yang didorong tersebut memberikan reaksi dengan
mendorong balon. Semakin banyak udara yang ada di dalam balon, semakin lama dan
jauh balon bergerak; semakin sedikit udara dalam balon, semakin pelan balon
bergerak. Jadi besar gaya aksi sama dengan besar gaya reaksi, hanya arahnya
berlawanan.
c)
Teori Kinetik Gas
Teori kinetik molekular gas menjelaskan bahwa gas memberi
tekanan saat molekul-molekulnya menumbuk dinding wadah. Semakin besar jumlah
molekul gas per satuan volume, semakin besar molekul yang menumbuk dinding
wadah, dan akibatnya semakin tinggi tekanan gas. Asumsi teori ini adalah
sebagai berikut.
1.
Gas terdiri atas molekul-molekul yang bergerak random.
2.
Tidak terdapat tarikan maupun tolakan antar molekul
gas.
3.
Tumbukan antar molekul adalah tumbukan elastik
sempurna, yakni tidak ada energi kinetik yang hilang.
4.
Bila dibandingkan dengan volume yang ditempati gas,
volume real molekul gas dapat diabaikan.
Berdasarkan
asumsi-asumsi ini diturunkan persamaan berikut untuk sistem yang terdiri atas n
molekul dengan massa m.
PV = nmu2/3
u2
adalah kecepatan kuadrat rata-rata. Jelas terlihat bentuk persamaan diatas identik
dengan hukum Boyle. Memang, bila u2 bernilai tetap pada suhu tetap,
persamaan di atas adalah variasi dari hukum Boyle.
Mengindikasikan
kecepatan molekul gas merupakan fungsi dari PV. Karena nilai PV untuk sejumlah
tertentu gas tetap, mungkin bahwa kecepatan molekul gas berhubungan dengan
massa gas, yakni massa molekulnya. Untuk 1 mol gas, persamaan berikut dapat
diturunkan.
PVm = NAmu2/3
Vm
adalah volume molar dan NA adalah tetapan Avogadro. Dengan
memasukkan PVm=RT di persamaan diatas, persamaan berikut didapatkan.
NAmu2 =
(3/2)RT
PVm = NAmu2/3
Suku kiri
persamaan berhubungan dengan energi kinetik molekul gas. Dari persamaan ini,
akar kuadrat rata-rata gas √u2 dapat diperoleh.
√u2= √(3RT/NAm)
= √ (3RT/M)
Dari persamaan gas ideal, maka dapat disimpulkan:
1.
Makin
tinggi temperatur gas ideal makin besar pula kecepatan partikelnya.
3. Temperatur merupakan ukuran
rata-rata dari energi kinetik tiap partikel gas.
4. Persamaan gas ideal (P V = nRT)
berdimensi energi/usaha .
5. Energi dalam gas ideal merupakan
jumlah energi kinetik seluruh partikelnya.
Sekarang kita andaikan sebuah balon
udara yang memiliki volume 2.250 meter kubik. Balon tersebut kira-kira akan
memindahkan udara yang massanya sekitar 2.650 kilogram (pada tekanan 1 atm dan
suhu 25 derajat Celsius). Kita bisa menghitungnya dengan menggunakan persamaan
gas ideal. dan menggunakan massa molekul relatif rata-rata udara yang dianggap
80 persen Nitrogen (N2) dan 20 persen Oksigen (O2). Dengan menggunakan rumus :
pV
= nRT
Maka jika balon udara diisi dengan
udara yang suhu dan tekanannya sama (25 derajat Celsius dan 1 atm), balon tidak
akan naik karena kini berat udara yang dipindahkan sama dengan berat udara
dalam balon. Seandainya kita panaskan udara dalam balon sampai sekitar 100
derajat Celcius, maka massa udara dalam balon dengan volume 2.250 meter kubik
itu kini menjadi sekitar 2.100 kilogram alias lebih ringan dari massa udara
yang dipindahkan.
Andaikan massa balon dan muatannya (termasuk
berat awal) sekitar 500 kilogram, maka kita masih mempunyai selisih massa
sebesar 50 kilogram atau selisih berat 50 kg.g (g = tetapan gravitasi bumi).
Dengan selisih ini maka balon akan bisa terbang. Bagaimana untuk suhu atmosfer,
massa balon dan muatan, serta suhu gas panas dalam balon yang berbeda? Kita
bisa bermain-main dengan berbagai angka pada tiga besaran di atas. Namun, yang
pasti ada hal lain yang harus diperhatikan, yaitu tekanan atmosfer yang
bergantung pada altitude. Semakin tinggi dari permukaan air laut, semakin
rendah tekanan atmosfer, penurunannya secara eksponensial. Hal ini akan
memengaruhi nilai berat udara yang dipindahkan.
PERCOBAAN BALON UDARA
1. Alat dan Bahan :
·
Plastik
·
Kawat
·
Spiritus
·
Kain
·
Korek api
·
Gunting
·
Cutter
·
Perekat plastik
·
Bambu
2.
Langkah Kerja
1.
Menyiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan
2.
Mengecek
alat dan bahan sebelum digunakan, usahakan semua alat dan bahan dalam keadaan
baik.
3.
Mengukur
Volume plastik yang akan digunakan.
4.
Membuat
bagian bawah balon udara dengan merekatkan bambu yang telah dibentuk
sesuai dengan bibir plastik
5.
Kemudian memotong kawat
secukupnya dan membentuk kawat menyerupai tanda plus(x).
6.
Mengaitkan kawat di bagian bawah balon.
7.
Di bagian tengah kawat diikatkan kain secukupnya yang telah dicelupkan
spiritus.
8.
Sebelum diterbangkan, balon dipanasi
terlebih dahulu sekitar 10 – 30 detik agar massa jenis udara didalam balon
lebih kecil dari pada yang di luar balon.
9.
Setelah massa jenis udara didalam balon
lebih kecil dari pada yang di luar balon, menyulut kain dengan api agar balon tetap
terbang dan mendapatkan pemanas.
10.
Mengamati dan menganalisa balon udara
yang telah berhasil terbang.
11.
Merapikan alat dan bahan setelah
digunakan.
3.
Gambar
Percobaan
4.
Analisa Project
a) Hukum Archimedes
Bunyi hukum Archimedes adalah “gaya
apung yang diterima oleh suatu benda yang melayang di suatu fluida sama dengan
berat fluida yang dipindahkannya.” .
Untuk membuktikan berlakunya hukum
Archimedes pada perancangan balon udara sederhana adalah sebagai berikut :
Diketahui
: ρƒ = 1,43 kg/
r = 0.39 m
t = 1.2 m
g = 9.8 m/
Ditanya
: Fa ?
Jawab
:
Fa = ρƒ . Vbƒ . g
= (ρƒ) (
.
. t ) ( g )
= (1,43 kg/
)
(
.
. 1.2 m) (9.8 m/
)
= 8,032 N
b) Teori Kinetik Gas
Teori kinetik gas digunakan dalan
pengaplikasian perancangan balon udara sederhana yang dapat membuktikan massa
udara yang dipindahkan sebelum dan setelah dipanaskan berbeda.
Diketahui :
= 3.10-3 kg
V = 0.573
= 300 K
= 305 K
P V = n R T
n R
= n R
, karena n =
maka,
R
=
R
karena R suatu konstanta maka dapat
dicoret,
sehingga,
. 300 K =
. 305 K
=
0.008 kg
Jadi telah terbukti jika massa udara
yang dipindahkan lebih kecil setelah dipanaskan.
5.
Study kasus
Pada 2 buah balon udara yang masing-masing
memiliki massa, udara, luas lingkaran/alas,volume balon,tinggi maksimum dan
waku yang berbeda untuk bisa naik ke atas pada ketinggian tertentu, dimana:
v Perbandingan
Gaya Angkat Keatas
Ø Balon I :
Diketahui: Massa : 7,4 gram
Suhu : 305 K
Waktu : 24,22 sec
Massa Jenis
udara : 1,3 kg/m3
Fa1 = ρƒ . Vbƒ . g
=
=
= 1,3.0,25.10 = 3,25 N
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa balon ke-1 untuk mencapai ketinggian 5,5 meter dibutuhkan
waktu 24,22 sec.
Ø Balon II :
Diketahui:
Massa : 4,2 gram
Suhu : 307 K
Waktu : 29,03 sec
Massa jenis udara : 1,3 kg/m3
Fa2 =
ρƒ . Vbƒ . g
=
=
1,3.
= 1,3.0,66.10 = 8,58 N
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa balon ke-1 untuk mencapai ketinggian 5,5 meter dibutuhkan
waktu 29,03 sec.
v
Perbandingan
Massa maksimal penumpang
m3)
m=massa bahan (kg)
v=volume (m3)
Ø
Balon I
m =
udara-
balon )V balon
= (1,3 – 0,03)0.25
=
0,32 kg
Ø Balon
II
m =
udara-
balon )V balon
= (1,3 – 0,02)0.66
= 0,84 kg
Jadi, dari hasil diatas dapat
disimpulkan bahwa semakin besar volume balon maka semakin besar pula penumpang/muatan
yang dapat diangkut.
Variabel
Percobaan
|
Massa
(gram)
|
Suhu
(Ko)
|
Massa jenis
udara
(kg/m3)
|
Waktu
(s)
|
Gaya angkat ke
atas
(N)
|
Ke - 1
|
7,4
|
305
|
1,3
|
24,22
|
3,25
|
Ke – 2
|
4,2
|
307
|
1,3
|
29,03
|
8,58
|
a.
Tabel
perhitunganng Gaya angkat ke atas (Fa)
Jadi dari
table diatas kita dapat menyimpulkan bahwa balon akan terbang ke atas jika masa
balon lebih kecil dari pada gaya angkat ke atas atau sering dituliskan Fa >
w.
Variabel
Percobaan
|
udara
|
balon
|
V balon
|
Massa max
|
Ke – 1
|
1,3
|
0,03
|
0,25
|
0,32
|
Ke - 2
|
1,3
|
0,02
|
0,66
|
0,84
|
b.
Table
menghitung berat maksimal penumpang
Jadi dari table diatas kita dapat menyimpulkan bahwa
semakin besar volume maka balon udara akan dapat mengangkut penumpang dengan
jumlah yang banyak disbanding dengan balon yang bervolume kecil.
KESIMPULAN
Dalam
pembuatan balon udara panas dibutuhkan teori-teori fisika yaitu Hukum
Archimedes, Hukum Newton III, dan Teori Kinetik Gas.
Pada
balon udara secara garis besar mempunyai 3 bagian utama, yaitu envelope,
burner, dan basket (kabin penumpang).
Dari percobaan yang telah dilakukan
diperoleh bahwa yang mempengaruhi balon udara dapat naik adalah massa, volume,
dan suhu.
Semakin tinggi suhu yang dipanaskan
pada balon maka akan semakin rendah pula tekanan udara yang ada pada balon
udara dibanding dengan udara sekitar. Semakin besar volume balon maka akan
semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk terbang.
Balon dapat naik dikarenakan Fa >
w. Jika Fa < w maka balon tidak akan tetap pada posisi diam, hal ini
dikarenakan beban yang lebih besar sehingga gaya angkatnya sulit untuk
mengangkat balon udara agar dapat terbang. Balon udara dapat terbang karena
terdapat gaya aksi reaksi atau sering ditulis Faksi = Freaksi
DAFTAR
PUSTAKA
Kanginan,Marthen.2006.Fisika
SMA kelas XI Semester 2.Jakarta:Penerbit Erlangga.
http://Science.howstuffworks.com diakses pada tanggal
18 september 2011,pukul 19.00
Anda sedang membaca artikel tentang LAPORAN FISIKA TEKNIK BALON UDARA PANAS dan anda bisa menemukan artikel LAPORAN FISIKA TEKNIK BALON UDARA PANAS ini dengan url http://anekamakalahkita.blogspot.com/2013/01/laporan-fisika-teknik-balon-udara-panas.html. Anda dapat Mengcopy Artikel LAPORAN FISIKA TEKNIK BALON UDARA PANAS ini untuk kepentingan pendidikan. Semoga artikel LAPORAN FISIKA TEKNIK BALON UDARA PANAS ini bermanfaat Bagi Anda. Mohon tinggalkan komentar setelah Anda membaca artikel LAPORAN FISIKA TEKNIK BALON UDARA PANAS ini. untuk dijadikan sebagai perbaikan dari artikel ini. bagi yang mau menyumbangkan makalah kirim melalui email sangmahasiswaabadi@gmail.com